Handheld Lenovo G02 Dihentikan akibat Kontroversi ROM Ilegal

Handheld Lenovo G02 Dihentikan akibat Kontroversi ROM Ilegal

JoshGowPhotography – Lenovo resmi menghentikan penjualan handheld retro G02 setelah perangkat tersebut terseret kontroversi terkait distribusi ROM game ilegal. Keputusan ini diambil setelah sejumlah unit G02 yang beredar di pasaran diketahui dijual dengan ribuan game retro yang diduga melanggar hak cipta. Meski Lenovo telah menarik produk tersebut dari saluran penjualan resminya, perangkat dengan desain serupa masih dipasarkan menggunakan merek lain. Kasus ini menjadi sorotan karena memperlihatkan tantangan yang masih dihadapi industri handheld retro dalam mengendalikan distribusi perangkat dan konten digital.

“Baca Juga: AMD Hadirkan Hardware VALORANT Edisi Terbatas”

Lenovo Tarik G02 dari Seluruh Marketplace Resmi

Berdasarkan laporan GamesRadar, Lenovo telah menghentikan penjualan G02 dan menarik perangkat tersebut dari seluruh marketplace resmi tempat produk itu sebelumnya dipasarkan.

Langkah tersebut dilakukan setelah G02 menjadi perhatian publik akibat banyaknya unit yang dijual oleh pihak ketiga dengan kartu microSD berisi ribuan game retro berlisensi. Kehadiran ROM tersebut memunculkan dugaan pelanggaran hak cipta dan memicu kontroversi yang turut menyeret nama Lenovo.

Perusahaan memilih menghentikan distribusi perangkat tersebut untuk menghindari dampak yang lebih besar terhadap citra mereknya. Hingga saat ini, G02 tidak lagi tersedia melalui jalur penjualan resmi Lenovo.

Keputusan tersebut juga menunjukkan upaya perusahaan dalam memisahkan produknya dari praktik distribusi konten yang tidak memiliki izin.

Lenovo Tegaskan G02 Hanya Produk Khusus Pasar China

Kontroversi mengenai Lenovo G02 sempat menimbulkan kebingungan di kalangan penggemar handheld retro. Pada awal kemunculannya, banyak pihak menduga perangkat bergaya Game Boy tersebut merupakan produk tiruan yang hanya memanfaatkan nama Lenovo.

Namun, setelah dilakukan penelusuran, Lenovo mengonfirmasi bahwa G02 memang merupakan produk berlisensi yang dipasarkan khusus untuk wilayah China. Meski demikian, perangkat tersebut bukan bagian dari lini produk global perusahaan.

Lenovo juga menegaskan bahwa G02 tidak pernah dijual secara resmi di luar China. Selain itu, perangkat yang dipasarkan melalui jalur resmi tidak disertai kartu microSD berisi kumpulan game.

Menurut penjelasan perusahaan, ROM yang diduga melanggar hak cipta ditambahkan oleh penjual pihak ketiga yang memasarkan perangkat tersebut ke pasar internasional tanpa persetujuan Lenovo.

Perangkat yang Sama Masih Beredar dengan Merek Berbeda

Meski nama Lenovo telah dihilangkan dari produk tersebut, perangkat keras yang sama masih ditemukan di berbagai marketplace.

Laporan terbaru menyebutkan bahwa handheld tersebut masih dipasarkan melalui platform seperti AliExpress dengan merek yang berbeda, salah satunya GUSGU H7. Hal ini menunjukkan bahwa perangkat dasarnya tetap diproduksi dan dijual oleh berbagai reseller meskipun tidak lagi menggunakan identitas Lenovo.

Praktik semacam ini cukup umum di pasar handheld retro. Satu desain perangkat sering kali dipasarkan oleh beberapa merek yang berbeda dengan sedikit perubahan pada logo atau kemasan.

Akibatnya, konsumen masih dapat menemukan perangkat yang hampir identik dengan Lenovo G02 meskipun produk resminya telah dihentikan.

“Baca Juga: Black Flag Resynced Catat 100 Ribu Pemain Bersamaan”

Kasus G02 Soroti Masalah Distribusi di Pasar Handheld Retro

Kasus Lenovo G02 memperlihatkan tantangan yang masih dihadapi industri handheld retro. Banyak produsen hanya bertanggung jawab membuat perangkat keras, sementara penjual independen menambahkan kartu microSD yang berisi ribuan ROM sebelum produk dijual kepada konsumen.

Praktik tersebut membuat batas tanggung jawab antara produsen, pemegang lisensi, dan reseller menjadi sulit dipahami oleh pembeli. Ketika perangkat membawa nama perusahaan besar, risiko terhadap reputasi merek juga meningkat apabila ditemukan pelanggaran hak cipta.

Bagi Lenovo, menghentikan penggunaan nama G02 menjadi langkah yang dinilai logis untuk melindungi citra perusahaan. Selama ini Lenovo lebih dikenal melalui produk seperti laptop Legion, Legion Go, serta berbagai perangkat komputasi lainnya dibandingkan handheld emulasi retro.

Kasus ini juga menjadi pengingat bagi konsumen untuk lebih memperhatikan asal-usul perangkat handheld retro yang dibeli. Produk resmi umumnya tidak dibekali kumpulan ROM yang melanggar hak cipta, sedangkan konten tersebut sering kali ditambahkan oleh penjual pihak ketiga sebelum perangkat dipasarkan. Seiring meningkatnya popularitas handheld retro, isu mengenai distribusi ROM dan kepatuhan terhadap hak cipta diperkirakan akan terus menjadi perhatian di industri ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *