JoshGowPhotography – South Korea kembali menjadi sorotan setelah harga ekspor komponen memori mereka terus meningkat tajam. Negara tersebut memang dikenal sebagai salah satu produsen terbesar DRAM dan NAND di dunia. Dalam beberapa bulan terakhir, tren kenaikan harga memori semakin terlihat jelas di pasar global. Kondisi ini dipengaruhi oleh tingginya permintaan industri teknologi modern, terutama sektor AI dan data center.
“Baca Juga: Kenaikan Harga Switch 2 Picu Saham Nintendo Anjlok”
Permintaan besar tersebut membuat kapasitas produksi produsen memori semakin terbebani. Akibatnya, harga berbagai komponen penyimpanan dan RAM terus mengalami peningkatan signifikan. Laporan terbaru menunjukkan kenaikan masih terus berlangsung hingga Mei 2026. Banyak analis industri memperkirakan situasi ini belum akan membaik dalam waktu dekat. Industri semikonduktor memang sedang menghadapi kombinasi tekanan pasokan dan lonjakan kebutuhan pasar. Karena itu, produk berbasis memori diprediksi tetap mengalami kenaikan harga dalam beberapa tahun mendatang. Situasi tersebut tentu berdampak langsung pada harga SSD, RAM, dan perangkat elektronik lainnya. Kini, perhatian pasar tertuju pada kemampuan produsen besar menghadapi lonjakan permintaan global tersebut.
Harga NAND Melonjak Lebih dari 63 Persen
Berdasarkan laporan terbaru, harga ekspor Flash NAND dari South Korea mengalami lonjakan paling besar. Pada Mei 2026, harga NAND disebut naik sekitar 63,1 persen dibanding bulan sebelumnya. Angka tersebut menjadi salah satu kenaikan paling tajam dalam beberapa waktu terakhir. NAND sendiri merupakan komponen utama yang digunakan dalam SSD dan berbagai media penyimpanan modern. Karena itu, kenaikan harga NAND berpotensi langsung memengaruhi harga SSD di pasar global. Selain kenaikan bulanan, laporan juga menunjukkan lonjakan tahunan yang sangat tinggi.
Secara year-on-year, harga NAND disebut sudah naik sekitar 351,6 persen dibanding tahun lalu. Situasi ini menunjukkan tekanan pasokan memori masih sangat besar di industri teknologi modern. Permintaan AI dan data center menjadi salah satu faktor utama kenaikan tersebut. Teknologi AI modern membutuhkan kapasitas penyimpanan dan bandwidth data yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Akibatnya, produsen memori kini menghadapi lonjakan pesanan dari berbagai sektor industri sekaligus. Banyak pengamat memperkirakan harga SSD global masih akan terus naik jika kondisi ini berlanjut.
Harga DRAM Ikut Naik Meski Tidak Setinggi NAND
Selain NAND, harga DRAM dari South Korea juga mengalami kenaikan cukup besar. Untuk memori DDR, harga ekspor tercatat naik sekitar 20,9 persen pada Mei 2026. Sementara itu, memori HBM mengalami kenaikan sekitar 18,7 persen dibanding bulan sebelumnya. Meski lebih rendah dibanding NAND, angka tersebut tetap tergolong sangat signifikan. Bahkan, laporan menyebut harga DDR kini sudah naik sekitar 497,4 persen dibanding tahun lalu. Kenaikan besar tersebut menunjukkan tingginya tekanan terhadap pasar memori global saat ini.
HBM sendiri menjadi salah satu jenis memori paling penting dalam industri AI modern. Teknologi ini banyak digunakan pada GPU dan akselerator AI performa tinggi. Karena itu, permintaan HBM terus meningkat sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Produsen besar kini berlomba meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar AI global. Namun, pembangunan fasilitas produksi memori membutuhkan investasi dan waktu sangat panjang. Situasi itu membuat pasokan belum mampu mengejar lonjakan kebutuhan industri modern secara cepat.
Modul RAM Justru Mengalami Penurunan Harga
Menariknya, tidak semua produk memori mengalami kenaikan harga dalam laporan terbaru tersebut. Produk modul DRAM justru disebut mengalami penurunan sekitar 13,9 persen. Penurunan ini mencakup berbagai jenis modul seperti UDIMM, SODIMM, dan RDIMM. Produk berbasis DDR dan LPDDR juga termasuk dalam kategori tersebut. Situasi ini menunjukkan adanya perbedaan dinamika antara harga chip mentah dan produk modul akhir.
Dalam beberapa kasus, pasar modul memori memang bergerak berbeda dibanding harga komponen inti. Faktor seperti stok distributor dan kondisi pasar konsumen dapat memengaruhi harga modul secara terpisah. Meski begitu, tekanan harga dari sisi chip kemungkinan tetap berdampak pada produk akhir dalam jangka panjang. Banyak produsen perangkat keras kini mulai menghadapi biaya produksi yang semakin tinggi. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi harga laptop, PC, dan server modern di masa depan. Industri hardware global kini sangat bergantung pada stabilitas pasokan memori dari Korea Selatan. Karena itu, perubahan harga di sektor ini langsung berdampak luas ke berbagai pasar teknologi dunia.
“Baca Juga: TECNO SPARK 50 4G Hadir di Indonesia Rp1,9 Juta”
Samsung Prediksi Situasi Akan Semakin Sulit
Samsung Electronics sebelumnya juga memberikan peringatan mengenai kondisi industri memori global. Perusahaan menyebut tekanan harga diperkirakan akan semakin berat memasuki tahun 2027 mendatang. Meski pembangunan pabrik baru sedang dilakukan, kapasitas tambahan belum bisa hadir dalam waktu dekat. Samsung menyebut fasilitas baru membutuhkan sekitar dua hingga tiga tahun sebelum mencapai produksi massal penuh. Situasi tersebut menunjukkan industri memori masih menghadapi tantangan jangka panjang yang cukup serius. Permintaan AI dan data center diprediksi terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Karena itu, produsen memori kemungkinan tetap kesulitan mengejar kebutuhan pasar global.
Kenaikan harga memori juga bisa berdampak pada biaya perangkat elektronik secara keseluruhan. Produk seperti SSD, laptop gaming, server, hingga GPU AI berpotensi mengalami kenaikan harga lanjutan. Banyak perusahaan teknologi kini mulai mencari strategi baru untuk menghadapi kondisi tersebut. Persaingan industri semikonduktor diperkirakan akan semakin ketat seiring meningkatnya kebutuhan komputasi modern. Kini, perhatian pasar tertuju pada bagaimana produsen besar seperti Samsung dan SK hynix mengatasi tekanan permintaan global yang terus melonjak.




Leave a Reply