Director Stellar Blade: AI Wajib Dipakai untuk Bersaing

Director Stellar Blade: AI Wajib Dipakai untuk Bersaing

JoshGowPhotography – Di tengah kekhawatiran terhadap daya saing industri kreatif Korea Selatan, suara tegas datang dari sektor game. CEO Shift Up sekaligus sutradara Stellar Blade, Kim Hyung-tae, menilai kecerdasan buatan menjadi faktor penentu keberlangsungan industri. Menurutnya, tanpa adopsi AI secara serius, industri game Korea Selatan akan kesulitan bertahan di panggung global. Pernyataan ini mencerminkan tekanan nyata yang dihadapi pelaku industri domestik. Persaingan global kini tidak hanya ditentukan kreativitas. Skala produksi dan efisiensi juga menjadi faktor krusial. Kim menilai kondisi tersebut menuntut perubahan strategi mendasar. AI dipandang sebagai alat untuk menjaga relevansi industri nasional. Tanpa transformasi teknologi, posisi Korea Selatan dinilai semakin terjepit. Pernyataan ini langsung memicu perhatian luas dari pemangku kepentingan. Industri game disebut berada di persimpangan penting menuju masa depan.

“Baca Juga: Bill Gates Angkat Sri Mulyani ke Dewan Foundation”

Forum Nasional Januari 2026 Soroti Tantangan Industri Game

Pandangan Kim Hyung-tae disampaikan dalam forum nasional bertajuk Strategi Pertumbuhan Ekonomi 2026. Acara tersebut digelar pada 9 Januari 2026. Forum ini dipimpin langsung oleh Presiden Korea Selatan. Sejumlah pejabat tinggi negara turut hadir dalam agenda tersebut. Kim hadir sebagai perwakilan sektor swasta dari industri game. Dalam paparannya, ia menyoroti tantangan struktural yang dihadapi industri. Fokus utama pembahasan adalah tekanan global terhadap daya saing nasional. Industri game disebut sebagai salah satu sektor strategis ekonomi kreatif. Kim menggunakan forum ini untuk menyampaikan kondisi riil di lapangan. Ia menilai kebijakan nasional perlu menyesuaikan perubahan teknologi. Diskusi tersebut menjadi ruang penting antara pemerintah dan pelaku industri. Isu AI ditempatkan sebagai agenda prioritas transformasi. Forum ini menandai meningkatnya perhatian negara terhadap industri game.

Tekanan dari Tiongkok dan Ketimpangan Sumber Daya Manusia

Dalam pemaparannya, Kim secara terbuka membahas tekanan dari Tiongkok. Tekanan tersebut bukan berasal dari kurangnya ide kreatif Korea Selatan. Kim menekankan perbedaan besar terletak pada skala sumber daya manusia. Ia menjelaskan satu proyek game di Shift Up biasanya dikerjakan sekitar 150 orang. Sebaliknya, studio di Tiongkok mampu mengerahkan 1.000 hingga 2.000 tenaga kerja. Ketimpangan ini menciptakan perbedaan besar dalam kecepatan produksi. Jumlah konten yang dihasilkan juga jauh berbeda. Kim menilai kondisi tersebut sulit dilawan dengan pendekatan konvensional. Korea Selatan tidak mungkin bersaing dari sisi kuantitas. Perbedaan skala ini menjadi tantangan struktural jangka panjang. Tekanan serupa juga datang dari Amerika Serikat. Industri raksasa dengan modal besar mendominasi pasar global. Situasi ini menuntut solusi di luar cara tradisional.

AI Diposisikan sebagai Alat Amplifikasi Produktivitas

Dengan sekitar 80 persen pendapatan Shift Up berasal dari pasar luar negeri, Kim menilai persaingan global tidak terelakkan. Dalam konteks tersebut, ia menolak pandangan AI sebagai ancaman tenaga kerja. Kim justru memposisikan AI sebagai alat amplifikasi manusia. Menurutnya, AI dapat memperluas kapasitas individu tanpa menggantikan peran kreatif. Ia menyampaikan visi bahwa setiap pekerja perlu menguasai AI. Dengan bantuan AI, produktivitas satu orang dapat meningkat drastis. Kim menggambarkan potensi satu individu menyamai puluhan orang. Bahkan, produktivitas bisa mendekati ratusan tenaga kerja. Pendekatan ini dianggap solusi realistis menghadapi ketimpangan skala global. AI dinilai mampu menutup jurang tanpa mengorbankan lapangan kerja. Kim menekankan pentingnya adopsi AI secara luas dan terstruktur. Transformasi ini dipandang sebagai kebutuhan strategis industri.

“Baca Juga: Webcam Insta360 Link 2 Pro Series Resmi Diperkenalkan”

Dukungan Pemerintah dan Arah Kebijakan Industri Kreatif

Pandangan Kim mendapatkan dukungan langsung dari pemerintah Korea Selatan. Menteri Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata, Chae Hwi-young, menyampaikan dukungan terbuka. Ia menyebut sejumlah perusahaan game besar sudah mengembangkan teknologi AI internal. Pemerintah juga mendorong kolaborasi lintas skala industri. Skema dirancang agar studio kecil dan menengah tidak tertinggal. Transformasi berbasis AI diupayakan inklusif. Selain itu, pemerintah berencana memberikan dukungan finansial. Investasi untuk mendorong adopsi AI dijadwalkan mulai 2026. Fokus kebijakan diarahkan pada industri kreatif strategis. Dukungan ini diharapkan mempercepat transformasi teknologi nasional. Di tengah perdebatan global soal etika AI, arah Korea Selatan terlihat jelas. Bagi industri game nasional, AI bukan lagi pilihan. AI diposisikan sebagai kebutuhan strategis untuk bertahan dan bersaing global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *