JoshGowPhotography – Industri game kembali diguncang tuduhan serius dari dalam salah satu franchise besar. Glenn Israel, mantan art director Halo Infinite, menuding adanya praktik ilegal di Halo Studios. Ia menyampaikan klaim tersebut melalui sejumlah unggahan di LinkedIn.
Glenn merupakan veteran yang telah bekerja selama 17 tahun di franchise Halo. Tuduhan yang ia sampaikan mencakup berbagai pelanggaran etika kerja. Kasus ini langsung menarik perhatian komunitas game global.
“Baca Juga: Super Mario Galaxy Tembus $372 Juta Global”
Isu ini menjadi sensitif karena melibatkan perusahaan besar di bawah naungan Microsoft. Tuduhan tersebut membuka diskusi tentang budaya kerja di industri game.
Tuduhan Blacklisting, Penipuan, dan Intimidasi Karyawan
Dalam pernyataannya, Glenn mengaku menyaksikan berbagai praktik bermasalah. Ia menyebut adanya blacklisting terhadap karyawan tertentu. Selain itu, ia juga menuding adanya penipuan dan favoritisme ekstrem.
Favoritisme tersebut disebut memengaruhi proses perekrutan dan perkembangan karier. Glenn juga mengungkap dugaan kampanye pelecehan internal. Praktik ini disebut bertujuan memaksa karyawan keluar secara tidak langsung.
Rentang waktu kejadian yang ia sebut berlangsung antara Januari 2024 hingga Juni 2025. Tuduhan ini menunjukkan adanya masalah yang berlangsung cukup lama.
Klaim Pelaporan ke HR dan Dugaan Ancaman Balasan
Glenn menyatakan telah melaporkan kasus tersebut ke departemen HR Microsoft. Namun, ia mengaku tidak mendapatkan perlindungan yang diharapkan. Sebaliknya, ia menuding adanya ancaman dari pihak internal.
Ia menyebut perwakilan Global Employee Relations terlibat dalam intimidasi. Tekanan tersebut berlangsung selama beberapa hari. Situasi ini disebut berujung pada pemecatannya pada Juli 2025.
Klaim ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas sistem pelaporan internal. Perlindungan terhadap pelapor menjadi sorotan utama.
Dugaan Sistem HR Terfragmentasi dan Dukungan Mantan Staf
Glenn juga menyoroti sistem HR yang ia anggap terfragmentasi. Menurutnya, kondisi ini memungkinkan perusahaan menghindari tanggung jawab. Ia menyebut adanya “plausible deniability” dalam penanganan kasus sensitif.
Beberapa mantan staf lain turut memberikan dukungan terhadap klaim tersebut. Mereka mengaku pernah mengalami atau menyaksikan hal serupa. Dukungan ini memperkuat dugaan bahwa masalah tidak bersifat individual.
Keterlibatan banyak pihak membuat kasus ini semakin kompleks. Isu ini berpotensi berkembang lebih luas.
“Baca Juga: Lenovo Rilis Yoga Mini i, Mini PC AI Berdesain Ringkas”
Respons Microsoft dan Dampak pada Reputasi Industri
Microsoft akhirnya memberikan tanggapan resmi pada 4 April. Perusahaan menyatakan akan menanggapi semua tuduhan dengan serius. Namun, mereka tidak mengungkap detail lebih lanjut.
Alasan yang diberikan adalah untuk menjaga privasi karyawan yang terlibat. Pendekatan ini umum dalam kasus sensitif. Meski begitu, publik tetap menunggu transparansi lebih lanjut.
Kasus ini berpotensi berdampak pada reputasi Halo Studios dan Microsoft. Industri game kembali dihadapkan pada isu budaya kerja. Perkembangan selanjutnya akan menjadi perhatian besar bagi komunitas global.




Leave a Reply